BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep Dasar Medis
1.
Pengertian
Striktur uretra
adalah suatu kondisi penyempitan lumen
uretra. Striktur uretra
menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari aliran berkemih yang kecil
sampai tidak dapat mengeluarkan urine keluar dari tubuh. (Muttaqin.A, 2011, hal
232)
Striktur uretra adalah
penyempitan atau penyumbatan dari lumen
uretra sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotic (jaringan parut pada uretra
dan / atau pada daerah peri uretra).(Nursalam,
2008 , hal 85)
2.
Anatomi dan
fisiologi
a.
Anatomi sistem
perkemihan
1.
Ginjal
Ginjal merupakan organ
peka yang mudah rusak sewaktu ditangani. Organ ini terletak di ruang retroperitoneum setinggi vertebra torakalis ke-12 sampai lumbal ke-3. Fungsi ginjal adalah
menyaring kotoran dari darah. Ginjal berbentuk kacang polong dan memiliki 3
bagian. Bagian luar adalah korteks,
bagian tengah adalah medulla mengandung
piramida – piramida ginjal. Pada piramida ginjal, darah disaring dan urine dibentuk. Beberapa piramida ginjal
menyatu membentuk kaliks minor dan mayor. Kaliks mayor menyatu dan membentuk pelvis ginjal, yang merupakan ujung proksimal terbesar dari ureter.
Vena dan arteri renalis masuk melalui hilus ginjal, suatu bagian konkaf yang
terletak di atas ureter.
2.
Ureter
Merupakan pipa panjang
dengan dinding yang sebagian besar terdiri atas otot polos. Organ ini menghubungkan
setiap ginjal dengan kandung kemih dan berfungsi sebagai pipa untuk menyalurkan
urine. Ureter memiliki panjang 27 sampai 30 cm dengan garis tegah 4 sampai 5
mm. ureter menghubungkan ginjal ke
kandung kemih. Kontraksi peristaltik ureter mendorong urine dari ginjal ke kandung kemih.
Dinding ureter terdiri dari tiga lapisan
jaringan yaitu:
a.
Lapisan terluar
adalah lapisan fibrosa
b.
Lapisan tengah
adalah muskularis longitudinal ke
arah dalam dan otot polos sirkular ke arah luar.
c.
Lapisan terdalam
epithelium mukosa yang mensekresi
selaput mukus pelindung.
3.
Vesika urinaria
(kandung kemih)
Kandung kemih (buli-buli – bladder ) merupakan sebuah
kantong yang terdiri atas otot halus, berfungsi menampung urine. Dalam kandung
kemih terdapat beberapa lapisan jaringan otot yang paling dalam, memanjang
ditengah dan yang melingkar yang disebut detrusor,
berfungsi untuk mengeluarkan urine bila terjadi kontraksi. Pada dasar kandung
kemih terdapat lapisan tengah jaringan otot berbentuk lingkaran bagian dalam
atau disebut sebagai otot lingkar yang berfungsi untuk menjaga saluran antara
kandung kemih dan uretra, sehingga uretra dapat menyalurkan urine dari kandung
kemih ke luar tubuh.
4.
Uretra
Uretra merupakan organ
yang berfungsi menyalurkan urine ke bagian luar. Berukuran panjang 13,7 – 16,2
cm pada pria dan terdiri atas tiga bagian, yaitu prostat, selaput membran dan bagian yang berongga (ruang). Pada
wanita, uretra memiliki panjang 3,7 – 6,2 cm dan hanya berfungsi sebagai tempat
menyalurkan urine ke bagian luar tubuh. Seluruh saluran kemih tersebut dilapisi
membran mukosa, dimulai dari meatus uretra sampai menuju ginjal.
Meskipun mikroorganisme secara normal tidak ada yang bisa melewati uretra bagian bawah, namun membran mukosa ini secara terus –
menerus akan memberikan sesuatu yang baik sebagai media pertumbuhan beberapa patogen dan untuk penyebab infeksi. (Hidayah. Alimul, 2006, hal 81)
5.
Interna
/Eksterna
a.
Interna
Alat sistem perkemihan bagian dalam
yaitu : ginjal dimana merupakan organ retroperitoneal,
terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ureter merupakan
perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis ginjal yang merentang
sampai kandung kemih. Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas
otot halus, berfungsi menampung urine.
b.
Eksterna
Alat sistem perkemihan yang paling luar
adalah uretra dimana pada laki – laki sebagai tempat pengaliran urine dan sistem
reproduksi, pada laki – laki dan wanita sebagai tempat menyalurkan urine ke bagian
luar tubuh.
b.
Fisiologi
1.
Ginjal
Fungsi ginjal yaitu
mengeluarkan zat – zat toksik atau
racun, mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan kadar
asam – basa dari dari cairan tubuh, mempertahankan keseimbangan garam – garam
dan zat – zat lain dalam tubuh, mengeluarkan sisa metabolisme hasil akhir dari
protein ureum, kreatinin dan amoniak, mengubah vitamin D menjadi bentuk
aktifnya.
Tiga tahap pembentukan urine:
1.
Filtrasi
glomerular (penyaringan)
Pembentukan kemih
dimulai dengan filtrasi (penyaringan) plasma pada glomerulus, seperti kapiler
tubuh lainnya, kapiler glomerulus secara relatif inpermiabel terhadap protein
plasma yang besar dan cukup permeabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil
seperti elektrolit, asam amino glukosa dan sisa nitrogen.
2.
Reabsorbsi
(penyerapan)
Zat – zat difiltrasikan
ginjal dibagi tiga bagian yaitu: non elektrolit, elektrolit dan air. Setelah
filtrasi langkah kedua adalah reabsorbsi selektif zat – zat tersebut kembali
lagi, yang sudah difiltrasi.
3.
Sekresi
(pengeluaran)
Sekresi (pembuangan
urine) tubular melibatkan transfor aktif molekul – molekul dari aliran darah
melalui tubulus kedalam fitrat. Banyak substansi yang di sekresi tidak terjadi
secara alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansin yang secara alamiah
terjadi dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion – ion hidrogen.
2.
Ureter
Ureter menghubungkan
ginjal ke kandung kemih. Kontraksi peristaltik ureter mendorong urine dari
ginjal ke kandung kemih. Pasokan darah ureter berasal dari pembulu darah renalis, gonad, aorta, iliaka komunis
dan iliaka interna. Susunan saraf
otonom pada dinding ureter member kesan aktifitas peristaltik, dimana kontraksi
berirama berasal dari pemacu proksimal
yang mengendalikan transport halus dan efisien bagi urine dari pelvis renalis ke kandung kemih.
3.
Vesika Urinaria
(kandung kemih)
Kandung kemih merupakan
suatu kantong berongga di rongga panggul, di belakang simfisis pubis. Fungsi organ ini adalah menahan air kemih sampai
dikeluarkan. Kandung kemih mempunyai tiga muara, yaitu dua ureter dan satu
muara uretra. Sebagian besar dinding kandung kemih tersusun oleh otot polos
yang disebut muskulus destrusor. Di
dinding kandung kemih terdapat scratsch
reseptor yang akan bekerja memberikan stimulus sensasi berkemih. Vesika
urinaria dapat menimbulkan rangsangan saraf bila berisi kurang lebih 250 – 450
cc (pada orang dewasa) dan 200 – 250 cc (pada anak - anak)
Fungsi kandung kemih antara lain:
1.
Sebagai tempat
penyimpanan urine sebelum meninggalkan tubuh.
2.
Kandung kemih
berfungsi mendorong urine keluar tubuh dengan bantuan uretra.
Proses berkemih (mictio, mycturition, voiding atau urination) adalah proses pengosongan kandung kemih
(vesika urinaria). Proses ini dimulai dengan terkumpulnya urine dalam vesika urinaria yang merangsang saraf –
saraf sensorik dalam dinding vesika
urinaria (bagian resptor). Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine yang dapat
menimbulkan rangsangan, melalui medulla
spinalis dihantarkan ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral, kemudian otak
memberikan impuls / rangsangan melalui medulla
spinalis ke neuromotoris di
daerah sakral, serta terjadi koneksi otot detrusor dan relaksasi otot sfingter
internal.
Komposisi urine :
a.
Air (96%)
b.
Larutan (4%)
1.
Larutan organik
Urea, ammonia,
keratin, ucud acid.
2.
Larutan
anorganik
Natrium
(sodium), klorida, kalium (potasium), sulfat, magnesium dan fosfor. Natrium
klorida merupakan garam anorganik yang paling banyak.
4.
Uretra
Uretra adalah saluran
kecil yang dapat mengembang, berjalan dari kandung kemih sampai keluar tubuh.
Fungsinya menyalurkan urine dari tubuh, sebagai tempat pengeluaran urine dan
sebagai tempat pengeluaran sperma saat ejakulasi pada laki – laki. (Hidayah.Alimul,
2006, hal 81)
3.
Etiologi
Kongenital, uretritis gonore atau non
gonore,ruptur uretra anterior atau posterior serta iatrogenik maupun bukan. Pada wanita umumnya disebabkan karena
radang kronis, biasanya wanita tersebut berusia di atas 40 tahun dengan sistitis berulang (Mansjoer.A, 2000, hal
236)
Striktur uretra
dapat disebabkan oleh setiap radang kronik atau cedera. Radang karena gonore
merupakan penyebab penting tetapi radang lain yang kebanyakan di sebabkan
penyakit kelamin lain. Kebanyakan striktur
terletak di pars membranasea
walaupun juga terdapat di tempat lainInfeksi, trauma internal maupun eksternal pada uretra, kelainan bawaan
(Nursalam, 2008 , hal 85)
Penyebab umum dari
suatu penyempitan uretra adalah akibat traumatik atau iatrogenik. Penyebab lain adalah inflamasi, proses keganasan dan
kelainan bawaan pada uretra. (Muttaqin.A, 2011, hal 232)
4.
Insiden
Striktur uretra
masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada bagian negara tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi
pada pria dibanding wanita. Karena uretra pada wanita lebih pendek dan jarang terkena
infeksi. Segala sesuatu yang melukai uretra dapat menyebabkan striktur. Orang
dapat terlahir dengan striktur uretra meskipun hal itu jarang terjadi. (Muttaqin.A,
2011, hal 232)
5.
Patofisiologi
Lesi pada epitel uretra
atau putusnya kontinuitas, baik oleh proses infeksi maupun akibat trauma, akan
menimbulkan terjadinya reaksi peradangan dan fibroblastic. Iritasi dan urine pada uretra akan mengundang reaksi fibroblastic yang berkelanjutan dan
proses fibrosis makin menghebat
sehingga terjadilah penyempitan bahkan penyumbatan dari lumen uretra serta aliran urine mengalami hambatan dengan segala
akibatnya. Ekstravasasi urine pada
uretra yang mengalami lesi akan mengundang terjadinya peradangan periuretra yang
dapat berkembang menjadi abses periuretra
dan terbentuk fistula uretrokutan (lokalisasi
pada penis, perineum dan / atau skrotum). (Nursalam, 2008, hal 85)
6.
Manifestasi
Klinik
Keluhan: kesulitan
dalam berkemih, harus mengejan, pancaran mengecil, pancaran bercabang dan
menetes sampai retensi urine. Pembengkakan dan getah / nanah di daerah perineum, skrotum dan terkadang timbul
bercak darah di celana dalam. Bila terjadi infeksi sistemik penderita febris, warna urine bisa
keruh.(Nursalam, 2008, Hal 86)
Gejala dan tanda striktur biasanya mulai dengan hambatan
arus kemih dan kemudian timbul sindrom lengkap obstruksi leher kandung kemih
seperti digambarkan pada hipertrofia
prostat. Striktur akibat radang
uretra sering agak luas dan mungkin multiple. (Smeltzer.C,2002, hal 1468)
7.
Tes Diagnostik
a.
Laboratoriun
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk
pelengkap pelaksanaan pembedahan. Selain itu, beberapa dilakukan untuk
mengetahui adanya tanda –tanda infeksi melalui pemeriksaan urinalisis dan kultur urine
b.
Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan
pancaran urine. Volume urine yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi dengan
lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urine normal pada pria adalah 20
ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik. Bila kecepatan pancaran kurang dari harga
normal menandakan adanya obstruksi.
c.
Radiologi
Diagnosis pasti dibuat dengan uretrografi sehingga dapat melihat letak
penyempitan dan besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih lengkap
mengenai panjang striktur adalah dengan sistouretrografi
yaitu memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-buli dan secara
retrograd dari uretra. Dengan pemeriksaan ini, panjang striktur dapat diketahui
sehingga penting untuk perencanaan terapi atau operasi. (Muttaqin.A, 2011 hal 234
)
8.
Penatalaksanaan
Medik
Pada pasien yang datang
dengan retensio urine harus dilakukan
sistostomi kemudian baru dilakukan
pemeriksaan uretrografi untuk
mengetahui adanya striktur uretra.
Pada pasien dengan infiltrat urine
atau abses dilakukan insisi, sistostomi baru kemudian dilakukan uretrografi. Bila panjang striktur uretra lebih dari 2 cm atau
terdapat fistula uretrokutan atau residif dapat dilakukan uretroplasty. Bila panjang striktur kurang dari 2 cm dan tidak ada fistel maka dilakukan bedah endoskopi dengan alat sachse. Untuk striktur uretra anterior
dapat dilakukan otis uretrotomie.
Pada wanita pengobatannya dengan dilatasi, bila cara tersebut gagal bisa
dilakukan otis uretrotomie. (Mansjoer.A,
2002, hal 237)
9.
Pencegahan
Elemen penting dalam pencegahan adalah
menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus di hindari
dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis uretral termasuk kateter. (Smeltzer.C, Suzanne, 2002, hal
1468)
B.
Konsep Dasar Keperawatan
1.
Pengkajian
a.
Sirkulasi
Tanda: Peningkatan tekanan darah (efek
pembesaran ginjal)
b.
Makanan dan
cairan
Gejala: anoreksia, mual, muntah,
penurunan berat badan.
c.
Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urine, ketidakmampuan
untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi
berkemih.
Tanda: adanya massa / sumbatan pada
uretra.
d.
Nyeri /
kenyamanan : Nyeri suprapubik
e.
Keamanan : Demam
f.
Penyuluhan
pembelajaran
(Marilynn E. Doengoes, 2000 hal 672)
2.
Diagnosa Keperawatan
Merupakan pernyataan
yang menjelaskan status kesehatan baik aktual maupun potensial. Perawat memakai
proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mengsintesa data klinis dan
menentukan intervensi kaperawatan untuk mengurangi, menghilangkan atau mencegah
masalah kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya.
Diagnosa keperawatan
adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian keperawatan,
menjelaskan status kesehatan, masalah aktual, maupun resiko yang dapat di
prioritaskan. Adapun diagnosa keperawatan yang di kemukakan oleh Marilynn E.
Doenges (2000, hal695) yang lazim muncul
pada klien dengan striktur uretra antara lain:
a.
Gangguan rasa
nyaman nyeri berhubungan dengan post op sistostomi.
b.
Gangguan pola
eliminasi BAK berhubungan dengan post op sistostomi.
c.
Resiko volume
cairan berlebih berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih diabsorbsi.
d.
Resiko infeksi,
hemoragi berhubungan dengan pembedahan.
e.
Resiko disfungsi
seksual berhubungan dengan penyakitnya (striktur)
f.
Kurang
pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi.
3.
Rencana Keperawatan
Setelah diagnosa ditegakkan, maka
langkah selanjutnya adalah menyusun rencana kaperawatan untuk meminimalisir
masalah tersebut. Adapun rencana keperawatan untuk masing – masing diagnosa
antara lain:
a.
Diagnosa I
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan
dengan post op sistostomi.
Tujuan:
Pasien mengatakan perasaanya lebih
nyaman
Intervensi keperawatan:
Tabel. 1 Diagnosa I
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
2
3
4
5
6
|
Kaji tingkat
nyeri dan skala nyeri.
Pantau tanda –
tanda vital.
Ajarkan dan
anjurkan teknik relaksasi nafas dalam.
Berikan
lingkungan tenang dan kurangi rasa penuh stress.
Berikan
tindakan kenyamanan, misalnya: pijitan atau kompres dingin.
Penatalaksanaan
obat analgetik
|
1.
Membantu
mengkaji kebutuhan metabolik untuk intervensi selanjutnya.
2.
Peningkatan
tanda – tanda vital merupakan indikasi terjadi peningkatan rasa nyeri
3.
Membantu dalam
merelaksasikan otot – otot yang tegang sehingga nyeri dapat di minimalisir.
4.
Meningkatkan
istirahat dan kemampuan koping.
5.
Meminimalkan
rasa nyeri yang dirasakan.
6.
Analgetik
dapat memblok pusat nyeri.
|
b.
Diagnosa II
Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan
dengan post op sistostomi.
Tujuan:
Tidak terjadi gangguan pola eliminasi
BAK
Intervensi keperawatan:
Tabel. 2 Diagnosa II
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
2
3
4
|
Pantau output
urine dan karakteristik.
Pertahankan
irigasi kemih yang konstan selama 24 jam.
Mengusahakan
intake cairan
Setelah
kateter diangkat, terus memantau gejala – gejala gangguan pola eliminasi BAK
|
1.
Mendeteksi
gangguan pola eliminasi BAK secara dini
2.
Mencegah
bekuan darah menyumbat aliran urine.
3.
Melancarkan
aliran urine.
4.
Mendeteksi
dini gangguan pola eliminasi BAK.
|
c.
Diagnosa III
Resiko volume cairan berlebih
berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih diabsorbsi.
Tujuan:
Gejala – gejala dini intoksikasi air
secara dini dikenal.
Intervensi keperawatan:
Tabel. 3 Diagnosa III
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
2
3
4
|
Observasi
tanda – tanda vital
Lihat membran
mukosa; kaji turgor kulit dan pengisian kapiler.
Awasi masukan
dan pengeluaran; catat warna urine / konsentrasi, berat jenis.
Berikan cairan
peroral atau parenteral sesuai anjuran dan lanjutkan dengan diet sesuai
toleransi.
|
1.
Tanda yang
membantu mengidentifikasi fluktuasi volume intravaskuler.
2.
Indikator keadekuatan
sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.
3.
Penurunan
haluan urine pekat dengan peningkatan berat jenis di duga dehidrasi /
kebutuhan peningkatan cairan.
4.
Menurunkan
iritasi gaster / muntah untuk meminimalkan kehilangan cairan.
|
d.
Diagnosa IV
Resiko infeksi, hemoragi berhubungan
dengan pembedahan.
Tujuan:
Tidak terjadi infeksi, perdarahan minim.
Intervensi keperawatan:
Tabel. 4 Diagnosa IV
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
2
3
4
5
|
Pemantauan
warna urine darah merah segar bukan merah tua beberapa jam setelah bedah
baru.
Penyuluhan
kepada pasien agar mencegah maneuver valsavah.
Mencegah
pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah sekurang –
kurangnya 1 kali seminggu.
Mempertahankan
teknik aseptik dari sistem drainase urine, irigasi bila perlu saja.
Mengusahakan
intake yang banyak.
|
1.
Warna urine
berubah dari merah segar menjadi merah tua pada hari ke-2 dan ke-3 setelah
operasi.
2.
Dapat
mengiritasi, pada periode ini pasca bedah akibat tekanan.
3.
Dapat
menimbulkan perdarahan
4.
Meminimalkan resiko
masuknya kuman yang bisa menyebabkan infeksi.
5.
Dapat
menurunkan resiko infeksi
|
e.
Diagnosa V
Resiko disfungsi seksual berhubungan
dengan penyakitnya (striktur).
Tujuan:
Fungsi seksual dapat dipertahankan.
Intervensi keperawatan:
Tabel. 5 Diagnosa V
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
2
|
Memberikan
intervensi kepada pasien bahwa dalam berhubungan seksual, pengeluaran sperma
akan melalui lumen buatan.
Memberikan
informasi menurut kebutuhan. Kemungkinan kembali tingkat fungsi seperti
semula, kejadian ejakulasi retrograde
|
1.
Klien mengatakan
perubahan fungsi seksual.
2.
Kurang
pengetahuan dapat membangkitkan cemas dan berdampak disfungsi seksual
|
f.
Diagnosa VI
Kurang pengetahuan berhubungan dengan
kurang informasi, salah interpretasi informasi.
Tujuan:
Pasien menguraikan pantangan kegiatan
serta kebutuhan berobat jalan.
Intervensi keperawatan:
Tabel. 6 Diagnosa VI
|
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
2
3
4
5
|
Kaji tingkat
pendidikan keluarga klien
Kaji tingkat
pengetahuan keluarga klien.
Jelaskan pada
keluarga klien tentang penyakit melalui pendidikan kesehatan.
Beri
kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti.
Libatkan
keluarga dalam setiap tindakan pada klien.
|
1.
Memberikan
gambaran mengenai derajat pendidikan keluarga klien.
2.
Penjelasan
yang di berikan sesuai dengan kebutuhan klien.
3.
Meningkatkan
pengetahuan klien tentang penyakit yang di derita.
4.
Memberikan
klien perasaan untuk diperhatikan oleh perawat.
5.
Meningkatkan
kemandirian keluarga juga dapat mengerti tentang tindakan yang dilakukan
|
(Marilynn E. Doenges, 2000, hal 660)
4.
Implementasi
Dalam melaksanakan
rencana tersebut harus diperlukan kerja sama dengan tim kesehatan yang lain,
keluarga klien dan klien sendiri.
Hal – hal yang perlu diperhatikan:
a.
Kebutuhan dasar
klien
b.
Dasar dari
tindakan.
c.
Kemampuan
perseorangan, keahlian / keterampilan dan perawatan.
d.
Sumber dari
keluarga dan klien sendiri.
e.
Sumber dari
instansi terkait.
5.
Evaluasi
Evaluasi merupakan
tahap akhir dari proses keperawatan (Doenges E.Marilynn, 2000, hal 10). Evaluasi
ditujukan:
a.
Menilai apakah
tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak.
b.
Melakukan
pengkajian ulang atas apa yang tidak dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar